Bermain Kala Hujan

Dia begitu menyukai hujan. Senyumnya merekah membentuk dua sudut bibir yang indah ketika butiran-butiran bening dari langit itu berjatuhan. Lewat jendela kaca, gadis itu menikmati rintikan air hujan di atas keladi yang di tanam di depan rumahnya.
Ingatan-Liza-begitu ia kerap dipanggil berputar ke masa lalu saat ia dengan bebasnya menikmati air yang diturunkan Mikail untuk menyuburkan bumi. Kaciprak. Kecipruk. Bunyi genangang air hujan yang ditimbulkan ban sepedayang didayungnya penuh semangat. Seluruh tubuh sulung Cut Ani telah kuyup oleh hujan.
Di saat lain, ketika hujan kembali mengguyur. Ia dan adik lelakinya yang terpaut empat tahun bergegas ke belakang rumah. Sebuah empang di dalamnya hidup ikan mujair, lele, dan mas koki menjadi tujuan mereka. Bukan untuk memancing ikan. Bukan. Melainkan mereka ingin mandi di dalam kolam yang juga hidup teratai. (lagi…)
13 comments Agustus 29th, 2009

