Mulai Bisa Beradaptasi (11th Day)

7 Jun 2012

Cihuyyy, udah sebelas hari wak aku tugas di Bireuen. Ngga terasa banget ya. Minggu ini aku udah mulai dinas seperti dokter-dokter yang lain. Malam kemarin aku dapat jatah jaga malam. Jamaluddin. Jaga malam udara dingin. Tumben-tumbenan Bireuen dingin, biasanya juga panas. Eh ngga taunya AC di kamar dokternya yang kencang. Waktu keluar kamar, husssshhhhh, keringat pun bercucuran.

Karena udah orientasi kurang lebih seminggu, aku mulai paham kondisi di UGD ini. Aku pun sudah dekat dengan para perawat yang menjadi mitraku. Yang lebih asyik lagi, teman jagaku itu Bang Ibal, seniorku waktu kuliah dulu. Bukan si Bumi.

Eitss, katanya ngga sebal lagi sama pak dokter yang rupanya udah punya tiga anak itu, tapi ini kok??? Heheheh. Iya-iya, ngga sebal lagi. Tapi tetap aja berdoa-doa kalau jaga jangan sampai barengan dengan dia.

Tadi temanku Rina jaga bareng dia. Rina yang anak Medan dan sama sekali ngga bisa bahasa Aceh kelabakan saat bertemu pasien yang gawat dan keluarganya hanya bisa bahasa Aceh. Waktu dia mau minta tolong sama si Bumi, eh ngga taunya dia kabur entah kemana. Waktu aku mampir di poli anak, rupanya ada dia di sana. Si Bumi sedang ngegosipin Rina sama kakak-kakak perawat yang ada di situ. Ngatain si Rina ngga ligat lah, ini lah itu lah. Duh, ini cowok kok mulutnya ember ya…

Tiba-tiba si Bumi sedih. Usut punya usut rupanya dia ngga masuk dalam deretan dokter kontrak yang menjadi PNS. Ah, semoga ini menjadi pelajaran bagi dia untuk menjaga sikap.

“Rina bukannya ngga ligat, Bang! Dia ngga bisa bahasa Aceh!” aku membela teman serumahku. Lalu aku berpikir, seperti inilah yang dia lakukan saat dia menjelek-jelekkan kami di depan teman yang sama-sama bertugas di RS luar.

Rina benar-benar kerepotan. Pasien yang masuk semakin banyak. Sedangkan cuma dia sendiri di UGD. Bumi tetap ngga nampakin batang hidungnya. Mungkin dia sedih gara-gara ngga jadi PNS padahal udah lama juga dia kerja di RS Bireuen.

Jaga dengan Bang Ibal jauh berbeda dengan si Bumi. Emang sih, aku dilepas begitu aja.

“Biar mandiri, Dek!” ujarnya.

“No Problemo. Asal kalau ada yang ngga Liza pahami abang ajari ya.”

“Sipp.”

Kulihat Bang Ibal sudah kelelahan. Seharian ia juga jaga, lalu lanjut lagi malam.

“Kejar setoran ya, Bang?” Candaku.

“Iya, untuk susu anak.”

Kami pun tertawa bersama.

Bang Ibal lalu masuk ke kamar perawat dan aku jika pasiennya sudah stabil di suruh tidur di kamar dokter. Saat ada pasien yang lumayan gawat dan aku kebingungan, langsung saja kubangunkan seniorku itu. Dan ia segera menuju ke pasien.

Ah, kalau jaganya seperti ini, walaupun dibiarkan sendiri aku rela. Tapi kalau sama si Bumi???? hiiiiii. Ah, aku harus berdoa semoga dia berubah menjadi baik.


TAGS dokter keluarga dokter internship 2012


-

Author

Follow Me