Sepatu Pacok Liza

20 May 2012

Aku punya sepatu. Warna hitam. Berbahan karet dan plastik. Aku dan teman-temanku menamakannya sepatu Pacok. Tidak hanya aku yang memiliki sepatu Pacok, tapi ia juga dimiliki oleh hampir seluruh murid yang sekolah di SDN 1 Tangse.

Setiap berangkat ke sekolah Pacok selalu kukenakan. Kalau ada lumpur yang melekat, kulap ia dengan kain perca yang disiapkan mamakku. Karena berbahan karet-plastik, kakiku sering sakit jika ia kukenakan saat berjalan di atas jalanan separuh aspal separuh batu. Aku menamakan jalan di kampungku demikian karena jalan itu sudah tidak jelas lagi yang mana aspalnya, yang ada hanya bebatuan berbalutkan aspal yang kerap membuatku terjatuh bila tidak hati-hati.

Saat bermain karet kala istirahat tiba, aku dan teman-teman pemakai Pacok melepaskan sepatu berbahan karet-plastik itu. Pacok tidak layak diajak bermain lompat-melompat karet, karena ia akan membuat jemari kaki menjadi lecet. Walau memakai kaos kaki tebal pun Pacok tetap kasar dan melukai kakiku.

Ketika istirahat telah usai, Pacok kukenakan lagi. Bisa-bisa aku diusir Ibu Upik, sang wali kelas jika tidak memakai sepatu di dalam kelas. Kemudian ketika lonceng pulang sekolah berbunyi akupun bergegas untuk berlari pulang. Pacok pun siap-siap aku lepaskan. Tapi tidak di dalam kawasan sekolah.

Aku pernah ditegur Bu Upik saat membuka Pacok di depan gerbang sekolah.

Liza, pakai sepatumu. Pergi sekolah rapi, pulang juga harus rapi!

Aku hanya cengar cengir mendengar teguran guruku. Lalu kupakai kembali Pacok yang sudah lepas dari kaki. Pelan aku berjalan sambil melihat ke belakang apakah Bu Upik pulang sekalian denganku atau ia kembali ke ruang guru. Ketika tahu Bu Upik belum pulang, di jalan yang berjarak sekitar lima puluh meter dari sekolah aku kembali melepaskan Pacok.

Sakit kakiku, Mak. Liat nih, lecet jadinya. Aku menampakkan jari kakiku yang merah-merah dan bergembung karena bergesekan dengan Pacok.

Salah sendiri siapa suruh Mak beliin kamu sepatu Pacok. Dibeliin sepatu kain kek biasa ngga mau. Malah minta Pacok. Mak bukannya ikut prihatin dengan nasibku malah mengomeliku.

Memang. Aku sendiri yang meminta mamakku membelikan sepatu Pacok. Soalnya sepatu kainku cepat sekali rusaknya. Belum pun setahun kupakai sudah bolong-bolong kainnya.

Minta makan sepatumu, begitu ejek kawan-kawanku.

Belum lagi warna hitamnya yang memutih akibat sering kucuci dan jemur di terik matahari. Akhirnya aku meminta mamak untuk membeli Pacok ketika aku naik ke kelas lima SD. Keputusanku membeli sepatu Pacok bukan keputusan tiba-tiba. Aku sudah mewawancarai teman-teman yang memakai Pacok ke sekolah. Bertanya tentang harga, kenyamanan saat dipakai, dan ketahanannya.

Setelah bertanya aku mendapatkan jawaban bahwa sepatu Pacok itu harganya murah dan tahan lama. Soal kenyamanan? Ia sama sekali tidak nyaman. Tapi dua hal tadi telah cukup membuatku memutuskan untuk meminta mamak membeliku sepatu Pacok.

Sebenarnya aku kepingin memiliki sepatu kulit yang nyaman dipakai dan tahan lama seperti yang digunakan teman-temanku yang ayahnya punya kilang padi. Tapi aku harus sadar diri. Mamakku hanya seorang ibu rumah tangga dan janda. Penghasilannya dari menjual kue basah tidak seberapa. Pas-pasan untuk kehidupan kami sehari-hari. Aku juga punya adik yang baru masuk TK. Jadi mamak sering mengingatkan agar aku berhemat. Hidup kami sudah berbeda dibandingkan saat bapak masih ada. Termasuk dalam membeli sepatu.

Pernah aku mencoba untuk menjaga sepatu kainku agar tidak koyak dan tahan lama. Setiap bermain aku lepaskan sepatu itu. Tapi kata mamak kakiku itu tajam kayak pisau. Cara jalanku juga asal-asalan. Ditambah lagi dengan jalanan yang berbatuan. Sepatuku pun mudah rusak jadinya.

Saat menggunakan Pacok, keluhanku akan sepatu yang mudah koyak sudah tidak ada lagi. Pacok memang kuat. Saking kuatnya kakiku yang tajam malah menjadi lecet dibuatnya. Tapi itu bukan masalah. Aku bisa menyiasati. Aku akan memakai Pacok saat ke sekolah dan melepaskannya ketika sekolah berakhir. Dengan syarat; jangan lepaskan sepatumu di dalam kawasan sekolah karena bisa menimbulkan masalah.

Sepenggal kenangan indah kala duduk di bangku SD tahun 1998 silam


TAGS tangse sepatu Dahlan Pacok sepatu


-

Author

Follow Me