Sepulang dari rumah sakit dengan perasaan yang tak menentu, sebelum magnet yang melekat di kasur menarikku, aku ingin mengatakan sesuatu. Sebaaaaallllllllllllllllllll. Aku sangat sebal hari ini. Sebal sekali. Bukan karena pasien yang berjubel. Bukan karena konsulen yang suka ngomel-ngomel. Bukan pula karena perawat yang suka nyuruh ini itu. Bukan itu yang membuatku sebal.
Aku sebal dengan pendidikan di universitasku. Sebuah universitas yang konon katanya jantung hati rakyat. Betapa tidak, tanpa ada angin dan hujan. Bagai godam yang menghantam, tanpa sepengetahuanku dan juga teman-teman yang lain, pihak rektorat menaikkan jumlah SPP dua kali lipat. Uang semester fakultasku yang dari dulunya memang tinggi, kini ketika aku menjalani co assisten, melonjak lebih tinggi lagi. Dari 1,7 juta menjadi 3 juta lebih (lebih kurang begitu isunya) persemester. Lain halnya dengan para senior yang dulunya hanya membayar 5ratus ribu, kini mereka juga harus membayar dengan nominal yang sama dengan kami.
“Kalau memang seperti itu, bisa mencret nih orang tuaku untuk ngebiayain kuliah,” ucap Ani yang sangat ngga setuju dengan isu kenaikan SPP itu.
“Terpaksa PAPS (pulang atas permintaan sendiri) alias nonaktif dari coass nih.” tambah Fee.
Meskipun baru isu-isu tentang adanya kenaikan SPP, tapi ketika melihat langsung selebaran yang ada di portal mahasiswa yang diasuh oleh pihak rektorat, aku hanya bisa menelan ludah. Sambil berucap : All iz well. Dan meyakinkan diri bahwa Tuhan tidak mungkin membiarkan hambaNya. Allah selalu bersama kita. Rezeki ada ditanganNya. Ya, aku terus meyakini diriku. Meski, sampai saat ini aku masih kecewa dengan kebijakan dari rektorat yang menurutku sangat tidak fair dengan kebijakan yang mereka buat. Tidakkah mereka berpikir kalau yang kuliah di kedokteran itu tidak semuanya berasal dari golongan menengah ke atas? Apa lagi, tak ada beasiswa untuk para coass karena memang statusku dan teman-teman bukan lagi mahasiswa melainkan sarjana yang sedang mengambil gelar profesi.
Hmm… aku tak tahu harus berbuat apa. Demo? sudah bukan zamannya lagi aku dan teman-teman turun ke jalan untuk memprotes kebijakan ini. Para pasien lebih memerlukan kami. Lain halnya kalau kenaikan SPP itu diiringi dengan semakin bagusnya fasilitas baik sarana dan prasarana dalam menjalani pendidikan. Tapi ini? Entahlah. Semoga saja semuanya akan baik-baik saja.
30 Juli 2010
Beberapa hari ini aku benar-benar merasakan bahwa aku telah termasuk ke dalam golongan orang yang sok sibuk. Bayangkan saja, selepas subuh aku langsung meninggalkan rumah dan pulang ketika orang-orang sudah terlelap. Syukur-syukur bisa pulang, seringnya akupun tak pulang ke rumah. Kenapa? Ya agak sok sibuk sih.
Berhubung dalam seminggu ini aku sudah memasuki bagian yang membuat para dokter muda harus sok sibuk, jadi wajar saja kalau waktuku berleha-leha untuk ngenet, jalan-jalan, baca novel, atau apapun itu harus disingkirkan. Tapi, saat ini aku mencoba untuk mengambil sedikit waktuku yang tersingkirkan itu. Meninggalkan rutinitas kesoksibukanku dengan menulis di sini.
Penyakit Dalam. Yup, aku sedang menjalankan stase penyakit dalam. Salah satu stase yang paling lama dan paling membuatku sok sibuk. Bayangkan saja, lebih dari lima puluh persen orang-orang yang berobat ke rumah sakit adalah mereka yang bermasalah dengan penyakit dalamnya. Apalagi di musim yang tak menentu seperti ini. Maka jangan heran kalau setiap hari seluruh kamar di RS bagian penyakit dalamnya itu penuh. Lain lagi dengan pasien yang hanya ingin berkonsultasi saja di poliklinik. Jika setiap harinya pengunjung RS Aladin ada 1000 orang, maka 500 lebih adalah pasien penyakit dalam.
Namun, meski lelah dan membuatku harus sibuk, ada kesenangan tersendiri ketika berhadapan langsung dengan pasien. Menegakkan diagnosa penyakit mereka, dan memberikan terapi untuk kesembuhan. Sungguh lega rasanya ketika ada pasien yang aku tangani bisa sembuh. Yeah, meski sakit dan sembuh adalah nikmat yang dianugerahkan yang Maha Kuasa, tetapi ketika dapat membantu dalam meraih nikmat sembuh tersebut, sungguh senang sekali rasanya.
Penyakit dalam. Tak hanya penyakitnya saja yang beraneka ragam, tapi konsulen yang menjadi supervisor kami juga beraneka ragam sifatnya. Sama sepeti bagian-bagian yang lain, dimarahi di depan pasien, diusir keluar dari ruangan, dan berbagai kesengsaraan lain sudah biasa kami hadapi. Meski belum mendapatkan hal-hal terburuk selama menjalani koas dibagian ini, tapi aku sudah mempersiapkan mental badak. Kalau dimarahi didepan pasien, diusir dari ruangan, maka muka dan telinga badakku langsung kupasang. Tapi, semoga ngga sampai kejadian ya.
Yang jelas, seminggu di bagian PD ini membuatku semakin Pe de. Karena memang seperti itulah medan pertempuranku ketika menjadi dokter kelak. Hampir seluruh penyakit yang dialami oleh pasien adalah bagian penyakit dalam. Seperti penyakit-penyakit rheumatoid, endokrin, darah, penyakit tropis, dll. Jadi, semua yang aku dapatkan sekarang adalah bekal yang sangat berharga untuk ke depannya. Hm, dannnnn, hobi tidurku serta sifatku yang pemalas harus segera dilenyapkan untuk sementara waktu. Mudah-mudahan bisa.
Tagged: penyakit dalam 26 Juli 2010
“Apalah arti nilai A, B, C, yang penting itu ilmunya. Bisa ngga kita menerapkan ilmu yang telah kita pelajari tersebut,” ucap seorang teman setelah mengambil nilai ujian anestesinya.
“Iya memang, tapi kalau nilai kita jelek mana bisa kita kerja nanti. Semua lowongan kerja pasti ada persyaratan indeks prestasinya. Ngga ada kan yang memberikan persyaratan harus berkompeten saja,” balas temanku yang lain.
Nilai. Sebenarnya ini telah menjadi sebuah masalah klasik yang mungkin setiap hari kita alami, terlebih lagi bagi seorang pelajar. Entah itu yang duduk di bangku sekolah atau di bangku perguruan tinggi. Nilai yang diberikan oleh seorang pendidik telah menjadi standar pintar-tidaknya seorang pelajar itu. Padahal belum tentu mereka yang nilainya bagus lebih pintar dari yang nilainya tidak bagus. Banyak hal yang menjadi pertimbangan.
Ucapan teman-teman di atas juga telah menjadi dilema dalam hidupku. Di satu sisi aku ingin bersikap tidak peduli dengan nilai yang diberikan oleh dokter konsulen, dan di sisi lain nilai yang berbentuk huruf atau angka menjadi sebuah prioritas yang kukejar. Sehingga kerap kali aku belajar hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Setelah mengambil nilai anestesi, tidak sedikit dari teman-temanku yang harus rem (remedial) karena nilai mereka tidak mencukupi batas minimal yang telah ditetapkan. Standar minimal yang diberikan adalah 70 untuk presentasi referat (karya ilmiah) dan 70 untuk ujian. Maka berbahagialah mereka yang mendapat dokter konsulen yang murah hati dan tidak neko-neko dalam memberikan nilai. Namun bagi mereka yang mendapatkan pembimbing (dokter konsulen) yang memiliki sangat banyak pertimbangan ketika memberikan angka-angka tersebut, maka berdoalah semoga di hari ujian atau pun presentasi mood sang dokter sedang baik dan tidak pelit dalam memberikan nilai. (lagi…)
Tagged: Anestesi, konsulen, nilai 1 Juli 2010
Ditengah-tengah ruang kesmas yang riuh akibat ulah seorang teman keturunan Batak yang sedang bersenandung ria hitsnya Armada yang judulnya emmm apa ya? Pokoknya reffnya kira-kira begini (sambil dengerin dokter muda Harahap bernyanyi) : Mau dibawa kemana hubungan kita jika kau terus menunda-nunda dan tak pernah nyatakan cinta antara kau dan aku. Diiringi bunyi hujan dan ketukan meja dari dokter muda yang tubuhnya paling kecil di ruangan ini, akupun kembali update blog.
Usai lagunya Armada, maka request lagu dangdutpun datang dari Fee. “Lagunya bang Rhoma aja,” ujarnya.
Tapi lagu yang dinyanyikan tak sesuai reqauest, “Jangan memilih aku”nya Anang-Syahrini menjadi pilihan.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 14.50. Itu artinya satu jam lebih sepuluh menit lagi kami berada di ruangan berukuran 7×4 cm dan bermuatan 32 calon dokter muda. Berharap-harap cemas kapan hujan turun kalo tidak jadwal pulang bakal tertunda.
Wahhh… sepertinya cerita hari ini harus diakhiri dulu. Maklum pake laptop pinjaman. Thanks to Esan yang udah minjamin lappynya seharian. Hari ini aku sempat singgah sejenak di ke dua rumahku dan seperti biasa mengisinya dengan kata-kata.
22 Juni 2010
Akhirnya sempat juga nulis di blog tercinta ini. Ya, setelah sekian lama tak dikunjungi. Sangat banyak spam yang membuat kotor dan belum sempat dibersihkan. Dengan koneksi internet seadanya karena quotanya sudah habis masa. Maka mulailah diriku menulis.
Apa yang ingin ditulis? Mungkin menulis apa saja yang ada dipikiranku sekarang. Dan yang ada dipikiran sekarang adalah rutinitas yang mungkin sedikit membosankan. Ngomong-ngomong tentang rutinitas, pastinya sudah tahu kan kegiatan apa yang selama ini kulakoni. Kalau belum tau, baca saja postingan sebelumnya.
Nah, sekarang aku sedang koas di bagian kesehatan masyarakat alias kesmas. Setelah sebelumnya di bagian anestesi. Sungguh, kedua bagian ini berbeda 180 derajat. Ya, walaupun sama-sama koas tapi tetap berbeda. Apa perbedaannya? Kalau di bagian anestesi atau bahasa awamnya bius membius itu hampir WH (wajib hadirnya) dari jam 7 pagi sampai jam 8 malam, bahkan kalau ada jadwal jaga aku tak sempat tidur apalagi pulang ke rumah. Sedangkan di bagian kesmas WHnya mulai dari jam 8 sampai 4 sore.
Terus, di bagian anestesi setiap hari aku harus berada di ruangan operasi dan setiap hari melakukan pre operasi pada pasien yang esoknya akan dioperasi. Lalu mengkonsul ke dokter spesialis anestesinya. Kalau di acc, maka operasi bisa dijalankan. Kalau tidak? Maka bersiaplah dirong-rong oleh koas bagian lain untuk meminta dokter anestesinya menyetujui tindakan operasi.
Ruang operasi adalah milik koas anestesi, begitulah peraturan yang entah dari mana muncul. Setiap hari dengan baju biru, penutup kepala, masker, serta sandal jepit di ruangan itu. Menyiapkan obat-obatan yang digunakan untuk anestesi, mulai dari premedikasi, induksi, intubasi, sampai pasien sadar kembali di recovery room dan dijemput oleh perawat ruangan. Meskipun lelah, tapi bagian anestesi ini cukup menantang. Tak hanya farmakologi yang harus dikuasai, tapi hampir semua bidang kedokteran harus dikuasai di bagian ini. Seperti fisiologi tubuh, patofisiologi penyakit dan lain-lain.
Dan yang paling menantang adalah ketika menghubungi dokter konsulen tengah-tengah malam. Diomeli, disuruh ini itu. Belum lagi dengan keinginan setiap dokter yang berbeda-beda. Tapi mau bagaimana lagi. Sudah menjadi rahasia umum kalau para koas itu adalah sasaran kemarahan para dokter spesialis. Namanya juga sekolah, selalu konyol dan salah. Jadi terima aja kalau dimarahi. Lagian mereka marahnya cuma saat itu saja dengan maksud tentunya untuk mengajarkan kami untuk menjadi dokter yang baik.
Nah, kalau di kesmas beda lagi. Sudah empat hari aku dibagian ini. Tapi suasananya jauh berbeda dengan anestesi. Di Kesmas, para koas tak lagi menangani pasien. Lalu kuliahnya juga bukan di rumah sakit, tapi di kampus. Dengan metode sekarang, kabarnya kami juga tidak dikirim ke puskesma. Karena nanti di bagian family medicine baru akan ditugaskan ke puskesmas-puskesmas. Di kesmas aku dan teman-teman akan belajar bagaimana menangani kesetahatan masyarakat mulai dari promosi kesehatan, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Kalau dibagian anestesi hanya menunggu orang sakit yang dioperasi, maka di bagian kesmas tugas kami adalah mengupayakan agar tingkat kesehatan masyarakat dapat lebih baik serta mencegah terjadinya penyakit. Sangat menarik. Tapi selama beberapa hari ini ngga ada kegiatan berarti seperti di bagian anestesi dulu.
Terus apa lagi ya? Hmm, udah dulu aja ya. Besok-besok dilanjutkan lagi
Tagged: Anestesi, kesmas, kuratif, preventif, rehabilitatif 27 Mei 2010
Lama juga ya ngga posting. Sudah seminggu lebih. Alasannya? Ya, klise saja. Seperti yang sudah-sudah juga. Ngga sempat! Terlebih lagi sekarang aku sudah pindah stase. Dari stase forensik yang lumayan santai dibanding stase lain ke stase anestesi yang jadwalnya berbalik seratus delapan puluh derajat dari forensik.
Ya begitulah. Setiap hari selama seminggu yang lalu aku harus hadir di rumah sakit pukul tujuh teng! Lalu pulang jam 8 malam. Lain lagi kalau harus jaga. Setiap dua malam sekali aku mendapatkan jadwal jaga dari jam 8 malam sampai jam 8 pagi keesokan harinya. Kalo dikalkulasikan seluruh waktuku habis di RS.
Lelah pasti. Apalagi jadwal tidur yang ngga menentu lagi. Tidur layaknya barang langka yang sukar didapatkan. Tapi, ini adalah kewajiban. Bagian anestesi alias bius membius menjadi bagian yang sangat penting dalam kesehatan. Mulai dari IGD sampai kamar operasi, peran kami sangat dituntut. Karena (tanpa ingin mendahului Yang Di Atas) hidup dan mati pasien menjadi tanggung jawab pihak anestesi.
Jadi selama operasi ataupun resusitasi berlangsung, aku dan juga teman-teman yang lain harus standby di ruangan yang dinginnya minta ampun. Alhamdulillah selama seminggu ini belum ada kendala yang berarti.
Sama seperti forensik, aku ditugaskan di bagian anestesi selama 3 minggu. Minggu pertama di rumah sakit aladin, minggu kedua di RS jejaring, lalu minggu terakhir kembali lagi ke RSA. Dan sekarang, ketika menekan keypad ponselku, aku sedang berada di rumah sakit jejaring di Takengon.
Karena ini malam pertama, aku belum paham benar dengan tempat penginapanku sekarang. Tadi, ketika mencari-cari penginapan yang memang disediakan untuk koas, aku sempat kesasar. Syukurnya ada seorang ibu yang membantuku. Terimakasih bu 
Semoga hari-hari di Takengon tidak begitu melelahkan seperti di Banda Aceh.
Tagged: Anestesi 25 April 2010
Previous Posts