Hari itu tepat tujuh belas tahun umurku. Kata orang 17 tahun adalah ulang tahun yang paling manis sampai-sampai ada istilah sweet seventeen. Eh, apa iya itu maksudnya? Entahlah. Pokoknya aku mau yang spesial di ulang tahunku yang paling manis itu.
Aku pun membayangkan beragam hadiah yang kudapat. Entah itu dari mamaku, dari teman-teman sekamar, maklum waktu SMA aku tinggal di asrama, dan dari siapa saja. Secret admire mungkin? Haha. Emang aku punya pengagum rahasia? Ya, siapa tahu. Ngarep…
Tapi mengharapkan hadiah dari mama itu ngga mungkin. Dalam keluargaku ngga ada istilah ngasih-ngasih kado waktu ulang tahun. Paling cuma ucapan dan traktiran makan. Ngga ada acara tiup lilin dan potong kue tart. Maklum aja, aku kan tinggal di tepi gunung. Kalau ada acara yang begituan sama aja dengan membuat kesenjangan sosial. Kok bisa? Ya karena orang kampungku berpenghasilan pas-pasan dan ngga kenal istilah begituan. (lagi…)
Tagged: Ekspresi Seru dBlogger, esDogger, Indosat4Indonesia 25 Januari 2012
Selama dua bulan ini aku menjalani koas terakhir di bagian Family Medicine (FM). Mudah-mudahan ini bagian yang terakhir dan bagian lain yang belum keluar nilainya lulus dengan hasil yang memuaskan. Amiin. Mohon doanya ya teman-teman. Ngga terasa sudah seminggu kegiatan koas FM yang memang dipusatkan di Puskesmas ini kujalani. Dan di sini aku memang menjadi dokter yang sesungguhnya. Memeriksa pasien, menegakkan diagnosis, dan memberikan pengobatan. Eitss, ngga hanya itu, aku juga memberikan penyuluhan tentang kesehatan dan mengadakan home visit ke rumah pasien.
Home visit. Awalnya aku menyangka program ini akan membuatku kewalahan. Apalagi harus ke rumah orang gitu. Apa akan diterima? Takutnya malah akan diusir, atau bahasa halusnya disuruh pulang saja. Tapi ternyata prasangkaku salah saudara-saudara. Sabtu kemarin aku dan dua temanku mengadakan home visit ke 8 rumah pasien. Sepulang dari puskesmas dan melaksanakan shalat dhuhur, kami langsung menuju rumah pasien yang sebelumnya memang telah kami beritahu bahwa akan ada kunjungan ke rumah.
Hasilnya? Kami diterima dengan suka cita. Tak hanya pasien yang kami periksa, tetapi seluruh keluarganya menerima kami dengan hangat. Seluruh kue, makanan, minuman dan ah apapun itu dikeluarkan untuk menjamu kami. Semua berkonsultasi dan ingin diperiksa. Subhanallah…
Asli, delapan rumah yang kami kunjungi semuanya memberikan apresiasi yang sangat baik. Bahkan mereka meminta agar kami sering mengunjungi mereka. Hmm, sebenarnya memang dalam program pemerintah telah ditetapkan adanya dokter keluarga. Dokter yang tidak hanya menempatkan diri sebagai konsultan bagi pasien, tetapi menjadi teman yang bisa diajak berbagi. Dokter keluarga yang menempatkan pasien tidak hanya sebagai individu yang sakit tetapi sebagai manusia seutuhnya. Melayani tak hanya pasien tetapi satu keluarga. Aktif mengunjungi pasien dan tak hanya menunggu secara pasif di tempat praktek.
Diharapkan dengan adanya dokter keluarga ini, kegiatan preventif, kuratif, dan rehabilitif akan terwujud seutuhnya.
Tagged: dokter keluarga, home visit 28 Nopember 2011
Hiks, lama tak menulis disini. Kangen sekali rasanya. Seperti ingin memeluk dan melepas rindu. Hei daratangse.blogdetik.com apa kabarmu cinta? tahukah kau jika hati ini terlalu rindu? Maafkan daku yang selama ini mengacuhkanmu. Habisnya sering banget maintenance sih. jadinya dikacangin. Maaf yaaa
Sebelum di sini, aku udah nulis juga di rumah yang satu lagi tentang Disabilitas dan Pandangan Masyarakat ini nih linknya http://liza-fathia.com/2011/11/disabilitas-dan-pandangan-masyarakat.html
Ada lomba yang diadakan sama kartunet.com dalam peringatan hari disabilitas internasional.
Baiklah, sekarang tak ingin membahas tentang lomba. Saatnya membahas tentang betapa rindunya aku padamu. Lama sekali jemari ini tidak menari dan bermain aksara di rumah keduaku ini. Dan sekarang mari kita permainkan.
Hei, tahukan kalau sekarang aku lagi dibagian family medicine? kedokteran keluar gitu. jadi selama sebulan tugasnya di puskesmas. ngobatin pasien, ngadain penyuluhan, imunisasi, dan kunjungan ke rumah pasien. dan did u know? this is the last one. ini stase terakhir di dunia perkoasan. Tapi aku belum ujian di bagian Obgyn karena susah banget ngejar jendral yang satu itu untuk minta ujian. mudah-mudahan setelah FM bisa langsung ujian yaa. Amiin
Ngga hanya ujian obgyn, tapi aku juga harus nyelesain skripsi. Skripsi yang dulu waktu S1 katanya cuma sampai proposalnya saja sekarang harus dituntaskan. Huh. maklum saja. aku dan teman-teman adalah angkatan pertama sistem PBL jadi wajar saja masih trial n error gitu. kasarnya yaa seperti kelinci percobaan lah. but enjoy it
Targetku februari insyaallah selesai. mohon doanya ya teman-teman semoga dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah SWT.
Ohya, tadi aku mencari alamat rumah pasien untuk home visit lho. jadi saingan Ayu Ting Ting gitu. Syukurnya alamat yang dikasih bukan alamat palsu. jadi ngga perlu kemana kemana dimana? Sempat mutar-mutar juga karena ngga begitu paham dengan wilayah kerja puskesmas tempatku sekarang. luas banget soalnya. Tapi cukup menyenangkan karena disana aku menjadi dokter sebenarnya. Yeah walau belum ada titelnya sih, sebentar lagi…. ayo semangat
Wah panjang juga ya cuap-cuap pasca kerinduan yang tak tertahankan. habisnya benar-benar kangen sih. dan alhamdulillah ya kerinduan itu terobati. Baiklah, berhubung sudah malam dan mata sudah mengantuk. Pamitan dulu yaa c u. wassalam
25 Nopember 2011
Dua koma dua. Aku terbelalak melihat nilai yang tertulis dilembaran nilai yang kuberikan pada sekretaris bagian ilmu penyakit dalam. Air mataku hampir saja jatuh. aku benar-benar terkejut. Seakan tak percaya kalau nilai yang kudapatkan setelah delapan minggu koas di bagian penyakit dalam hanya segitu.
“Bu, kalau ngulang bisa ngga?” dengan terbata kutanya pada wanita paru baya yang telah berpuluh tahun mengabdi di bagian IPD itu.
“Kalau di PD ngga ada istilah ngulang. kalo udah lulus berapapun nilainya ya lulus.”
Geram, sedih, kecewa rasanya mendengar jawaban ibu itu. 2,2 itu sama saja dengan C. Dan itu bagian besar. Oh, semua teori yang kupegang tentang tak penting nilai, yang penting ilmu yang telah diperoleh serta usaha yang telah dilakukan-semua hilang.
Aku sedih karena nilai yang kudapatkan itu tanpa melalui proses seperti teman-teman yang lain. Dokter pengujiku tidak memberikan ujian padaku, begitu juga dengan teman-teman yang lain yang diujinya. sehingga nilai kami seperti itu. seandainya aku diuji dan aku tak bisa menjawab lalu dokter itu memberikan nilai segitu, aku akan ikhlas menerimanya. Tapi ini… ohhhhh.
Pernah terpikir untuk menemuinya secara langsung. Menanyakan alasan dia memberikan nilai segitu padaku, tapi percuma saja. Yang ada aku akan dianggap tak beratitude.
Oh.. aku sedih
Tapi hati kecilku selalu mencoba untuk mensyukuri apa yang kuperoleh saat ini. Toh ketika menjadi dokter kelak bukan berapa nilai yang kuperoleh tetapi ilmu apa yang dapat kuterapkan pada pasienku kelak. Tapi, disisi lain aku ngga bisa menerimanya. Ya Allah, berilah hamba kelapangan hati dlaam menerima segala dengan ikhlas dan sabar. Kutahu semua itu ada hikmahnya…
Ayoo liza semangat. Setidaknya aku bisa mengejar di bagian obgyn ini. AKu harus memberikan dan melakukan yang terbaik.
26 Agustus 2011
Pernahkah kamu melihat pekerja sukarela yang bisa melakukan segalanya? Dia bisa menjadi apapun di tempat kerjanya meski tak digaji (namanya juga sukarela), meski itu sama sekali ngga ada hubungannya dengan keterampilan dia. Ya, hanya karena berharap mendapatkan ilmu untuk diapresiasikan di masyarakat kelak sang pekerja sukarela itu harus dengan rela bekerja apapun yang disuruh oleh orang-orang yang katanya pemiliki gedung itu. Padahal, orang yang mentransferkan ilmu kepada mereka sama sekali tidak mewajibkan sang pekerja untuk melakukan hal tersebut.
Dan siapakah pekerja sosial multifungsi itu? Dia adalah koas. Dokter muda yang sedang menuntut ilmu di rumah sakit.
Kenapa aku menamakan sebagai pekerja multifungsi? Karena ketika kamu menjadi dokter muda, kamu ngga hanya bertugas memeriksa pasien dan mempelajari tentang penyakit pasien tersebut. Tetapi sangat banyak hal lain yang harus dilakukan di rumah orang itu walau kamu sudah membayar SPP setiap semesternya. Dan diantara pekerjaan itu adalah :
1. Menjadi petugas lab. Kalau sedang di bagian penyakit dalam, anak, atau bagian apapun yang pasiennya harus diambil darah, maka bersiap-siaplah kamu untuk menjadi drakula yang menghisap darah pasien lalu mengantarnya ke laboratorium. Mungkin untuk sekali dua kali kamu akan berpikir ngga apa, namanya juga belajar. Tetapi ketika pekerjaan yang sebenarnya bukan jatah kamu tetapi diperintahkan apalagi dengan teriakan. Hmm.. bakal nahan ngga ya? Insyaallah bisa kok
2. Menjadi tukang panggil-panggil pasien. Nah, kalo ini kejadiannya di poliklinik. Kalau kamu bertugas di poli, maka bersiap-siaplah untuk menjadi tukang panggil pasien. Ketika status pasien sampai, maka kamu harus segera berdiri di depan pintu, check sound jangan sampe suara menjadi serak atau kecil, lalu berteriak memanggil : Bapak bla bla bla, Ibu bla bla bla.
3. Menjadi tukang gonta ganti infus pasien. Kalau ini yang capenya kalau lagi tengah malam. Tiba-tiba kamar koas diketuk keluarga pasien. Ketika ditanya ada perlu apa? Mereka menjawab : Habis infus. udah diketuk kamar perawatnya tapi ngga dibuka-buka. Grrrr. Kalau sekali dua kali its ok. Tapi kalau baru aja mejamin mata, terus diketuk lagi. Ya ngga papa juga
4. Menjadi pesuruh perawat.
5. Menjadi pusat informasi.
6. Menjadi administrasi.
Ah, udah cukup aja. Hebat kan koas itu? Ternyata ngga hanya ilmu tentang kedokteran saja yang didapatkan disana, tetapi ilmu-ilmu yang lain juga. Jadinya ketika selesai kelak, jadi banyak ilmu deh. (Hmm, btw ikhlas ngga ya nulisnya? )
Tagged: dokter muda, multifungsi 26 Juli 2011
Lama juga ya ngga update. Maklum selama bertugas di bagian bedah diriku sangat supel dupel sibuk. Jangankan untuk nulis, tugas yang minggu depan kumpul belum juga kusentuh. Huh, memang sifatku suka menunda-nunda. Ingin berubah memang, tapi sering kumat lagi. Jadi malam ini, sebelum nyelesain tugas refrat tentang Brachial Plexus Injury pada Neonatus, aku mau nulis dulu di sini.
Ngga terasa ya, udah tujuh minggu aku di bagian bedah. Itu artinya tinggal seminggu lagi. Bedah saraf, bedah onkologi, bedah plastik, bedah torak dan anak, jejaring, bedah digestive, dan bedah ortopedi sudah terlewati. Minggu depan tinggal bedah urologi. Doakan saya lulus ya.
Kalo boleh jujur, aku sangat menikmati masa-masa di bagian bedah ini. Walah lelah, ngga tidur, ngga mandi, ngga makan tetapi tekanan yang aku dapatkan selama di sini sangatlah minim dibandingkan dengan di bagian lain. Tak peduli badan lelah asalkan hati senang, cukuplah sudah. Ditambah lagi dengan dokter-dokter spesialisnya yang sangat baik hati. Duh, aku jatuh cinta pada semua spesialis yang ada di bagian bedah itu. Mereka sangat baik dan care dengan pasien. Jarang marah dan yaa pokoknya aku suka
Namun, aku belum berniat untuk menjadi spesialis bedah kelak. Apalagi melihat residen alias para dokter yang sedang mengambil program spesialis bedah itu. Duh, kasian banget mereka. Selama lima tahun itu-itu aja yang mereka hadapi. Apalagi dengan jumlah pasien yang sangat membludak selama diberlakukannya JKA. Huh..
Tapi, diantara kesukaanku di bagian bedah, ada juga beberapa hal yang ngga aku sukai. Aku ngga suka disuruh-suruh mengerjakan tugas orang lain. Dan di sini seniorku membuatku harus mengerjakan tugasnya. Entahlah kalo itu planning pasien, tapi ini bukan. Dia menyuruhku membuat jurnal yang akan dipresentasikan di nasional.
Sebenarnya, teman-temanku sudah mengingatkanku untuk berpura-pura bodoh saja di depan dia. Jika dia nanya bisa ini bisa itu, jawab saja ngga bisa. Tapi, hari itu sepertinya memang naasku.
“Dek, kalian ada yang bisa ngetik cepat,” tanyanya padaku dan teman-teman yang lain.
“Ada, bang.” Spontan aku menjawab ada. Waktu itu aku berpikir sekedar mengetik kan ngga masalah.
“Coba lah kau tengok tugasku ini dek,” senior itu memberikanku beberapa lembar kertas yang isinya abstrak laporan kasus.
“Wah, kalo abstrak formatnya bukan seperti ini bang. Abstract itu harus mencakup pendahuluan, tujuan, metode, diskusi dan kesimpulan. maksimal 250 kata.” begitu saja aku nyerocos di depannya.
“Memangnya ini untuk apa bang?” tanyaku kemudian.
“Ini mau dipresentasikan di tingkat nasional.”
“Oh gitu.”
“Kau bisa buat dek? Kau bantu buat lah sebentar.”
Glek. Aku baru sadar, apa yang telah kuucapkan itu sama saja dengan menjerat diriku sendiri masuk ke dalam perangkapnya.
“Waduh, saya kurang bisa bang. Ada kawan saya yang lebih bisa. Suruh dia aja.”
“Yaudah kalau begitu kalian berdualah yang buat.”
What??? Duh, aku benar-benar menyesal telah berkomentar ini itu untuk tulisannya. Sebenarnya aku kasian melihat dia harus tampil di nasional dengan makalah yang amburadul. Bagaimanapun dia ngga membawa nama pribadi, tapi juga membawa nama kampus kami. Tapi.. Oh, aku telah masuk ke perangkapnya. Dan temanku juga telah kutarik agar kami sama-sama masuk kedalam jeratan senior yang memang selama ini dihindari oleh teman-temanku. (Bersambung)
10 Juni 2011
Previous Posts